Hubungan sex kilat diapotik

164 views

 

 cerita hot baru

cerita hot baru

Hubungan sex kilat diapotik-Sudah lebih dari empat jam Dedi bersama dua rekannya menunggu didepan pintu kamar Unit Gawat Darurat di sebuah rumah sakit di kota Jakarta Pusat. Yudy teman mereka bersama Do’i nya mengalami kecelakaan mobil yang lumayan parah tadi pagi sehingga mesti dirawat secara intensif di ruang Unit Gawat Darurat . Dedi dan dua rekannya merasa berkewajiban untuk membantu teman dekatnya karena pihak keluarga Yudy belum ada satupun yang muncul di rumah sakit. Yudy merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya berada di sebuah negara Eropa Timur sebagai staf kedutaan besar. Sedangkan keluarga dekat Yudy masih belum tiba karena tinggal di luar pulau Jawa seperti Medan, Minang dan Makasar. Beruntunglah Yudy memiliki karib seperti Dedi dan dua rekannya yang lain untuk mengurus keperluannya sewaktu dirawat di Unit Gawat Darurat .
Seorang perawat keluar dari ruang Unit Gawat Darurat dan menuju ke arah Dedi sambil membawa sebuah kertas di tangannya. “Mas, ini resep dokter yang harus segera dibelikan obatnya agar teman Mas besok pagi dapat langsung disuntik dengan obat itu.”, ungkap perawat tersebut kepada 3 pemuda yang sudah kelihatan lelah.
“Kira-kira di apotik rumah sakit ini obat itu ada nggak, Mbak?”, tanya seorang rekan Dedi .
“Kalau ada saya nggak akan minta tolong pada kalian”, jawab perawat singkat.
“Yuk, dicari!”, ajak Dedi pada 2 temannya.
“Sebentar Mas”, cegah perawat itu.
“Kalian yang mempunyai golongan darah sama dengan Yudy sebaiknya tinggal disini, jaga-jaga jika teman kalian membutuhkan darah lagi dan persedian kami habis”, meneruskan keterangannya.
Akhirnya 3 pemuda itu berembuk dan memutuskan agar Dedi saja yang mencari obat dan 2 temannya tetap tinggal.
Dedi mengeluh dalam hati sambil mengendarai mobil, “Cari apotik yang buka jam 1 pagi ini pasti susah, akunggak seberapa hapal jalan Jakarta lagi”.
Setelah berkendaraan selama 10 menit akhirnya dia menemukan sebuah apotik yang masih buka tapi setelah dimasukinya pegawai apotik tersebut menyatakan jika obat yang dicari Dedi tak ada. Kejadian tersebut berulang sampai 4 kali dengan alasan yang mirip, “obat itu habis”, “besok siang baru siap”, dan sebagainya. Demi teman yang saat ini tergolek di ranjang Unit Gawat Darurat , Dedi tak berputus asa meskipun tubuhnya sudah lelah dan ngantuk. Tanpa berharap banyak Dedi memarkir mobilnya didepan apotik kecil di ujung jalan yang sempit. “Paling-paling nggak ada lagi”, pikir Tedy sambil menyerahkan resep obat yang dicarinya kepada pegawai apotik itu, seorang cewekberumur 30-an.
“Silakan tunggu dulu, saya carikan”, ucap cewek itu dengan sopan.
Dia mencek dengan komputernya, lalu masuk ke ruangan berdiding kaca transparan yang terlihat penuh laci obat, keluar lagi dan terus masuk ke ruangan tertutup. cewek itu keluar bersama seorang pria berumur 50-an dengan wajah masih ngantuk.
Sambil mengenakan kaca matanya pria itu berkata pada Dedi , “Dik, obat ini agak langka, menyiapkannya butuh waktu 1 jam dan yang bisa menyiapkan cuma cabang kami yang berada di Depok. Sebaiknya adik langsung aja mendatangi kesana atau jika adik mau nunggu biar pegawai kami yang ngantar kesini, gimana?”.
Langsung dijawab Dedi , “Saya tunggu aja disini, Pak! Capek Pak saya putar-putar carinya! Berapa, Pak?”. Dijawab oleh cewek di sebelah pria itu, “Totalnya Rp 536.500,-“.
Dalam hati Dedi menggerutu, “Busyet, habis nih sisa gajian ku!”.
Jam di dinding apotik menunjukkan setengah dua, hawa sejuk pagi masuk melalui jendela apotik membuat Dedi yang baru saja duduk beberapa menit di ruang tunggu menjadi ngantuk. Matanya yang agak sayu mulai menatap cewek yang sibuk di kounter apotik itu, sementara itu pegawai pria yang tadi sudah tak terlihat lagi. Dalam hati Dedi mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk menghilangkan kebosanan, “Kalau diperhatikan cewek itu cakep juga ya, rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang, wajahnya mirip siapa? oh iya kayak penyanyi yang namanya Memes, tingkah la kunya anggun dan sopan, persis deh, bodinya juga kelihatan oke, bego sekali akubaru menyadarinya sekarang”. Tatapan mata Dedi yang semula sayu menjadi berbinar-binar seolah memandang hidangan lezat sewaktu lapar. Rasa ngantuknya lenyap dalam keheningan ruangan apotik yang hanya ada dia dan pegawai cewek itu . Dengan mulai ber kurangnya aktifitas pegawai cewek itu , ia mulai merasa jika sedang diperhatikan. Sedikit curi pandang ke arah Dedi , perasaannya terbukti benar. Pemuda langsing tinggi, 25-an tahun tapi lumayan tampan yang duduk didepannya memandang ke arahnya tanpa berkedip. Dedi akhirnya merasa jika tatapannya dirasakan oleh cewek itu .
Perhatian Dedi beralih ke barang-barang yang ada di outlet apotik itu. Bangkit dari tempat duduknya sambil membung kukkan badan ia melihat satu persatu barang dalam etalase kaca. Dengan penasaran pegawai cewek itu bertanya pada Dedi , “Mencari apa, Mas?”
“Hanya lihat-lihat kok Mbak!”, jawab Dedi , tapi pandangannya tertuju pada sederet kotak kondom dengan berbagai merk dan hal ini tak luput dari perhatian cewek itu .
Perhatian Dedi pada deretan kotan kondom itu begitu nampak karena dia benar-benar lagi membandingkan kelebihan setiap merk kondom dengan lainnya melalui tulisan-tulisan yang ada pada kotaknya. Tanpa malu-malu Dedi bertanya pada pegawai cewek itu , “Mbak, yang merk “A” ini harganya berapa?” yang dijawab pula oleh cewek itu . “Kalau yang “B”?” “Kalau yang “C”?” Semua pertanyaan itupun dijawab oleh pegawai cewek itu . Dengan wajah bingung Dedi menegakkan kembali badannya sambil mendekat ke arah pegawai itu. “Mbak, yang bagus yang mana?” tanyanya lirih dengan wajah lugu. Pegawai cewek itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum malu. Dengan wajah kecewa tak memperoleh jawaban, Dedi membalikkan badan lalu keluar dari apotik itu dan mengambil kotak rokoknya dari sakunya.
Bersandar pada kusen pintu apotik, Dedi menikmati setiap sedotan asap rokoknya. Tanpa disadarinya pegawai cewektadi sudah ada disampingnya dan mengagetkannya dengan permintaannya, “Mas, boleh minta rokoknya?” Bagai orang dihipnotis Dedi menghulurkan kotak rokok dan koreknya kepada wanita. Dedi merasa kaget campur bingung dan heran menatap cewek disampingnya sedang menikmati sedotan pertama pada sebatang rokok.
“Nggak usah bengong Mas, emangnya kenapa?”, tanya cewek itu .
“Ah, Nggak, nggak heran kok, sehari habis berapa Pak biasanya, Mbak?”, tanya Dedi sedikit menggoda. “Saya merokok kadang-kadang aja kok, Mas!”, jawab cewek itu .
Setelah itu mereka mengobrol akrab bak dua orang yang telah lama berkenalan.
“Mas, tadi tanya soal kondom, apa sudah menikah?”, tanya cewek itu .
“Belum, makanya saya bertanya, Mbak sudah?”, jawab Dedi dan berbalik bertanya.
“Sudah 5 tahun”, jawab cewek sambil menunjukkan kekecewaan di wajahnya.
“Wah, sudah pengalaman dong, jadi menurut Mbak, sewaktu suami Mbak pakai kondom yang enak rasanya yang merk apa?”, tanya Dedi seakan hal itu menjadi teka-tekinya.
“Apa kamu sudah punya Do’i ?”, tanya balik cewek itu.
Dengan menggelengkan kepala, Dedi menunduk malu seolah sadar bahwa dia menunjukkan keluguannya, lalu dia berusaha menutupinya dengan berkata, “Tapi gini-gini pengalaman ku nggak kalah sama Mbak! cuman saya nggak pernah pakai kondom”
“Oh, ya? saya percaya kok”, sindir cewek itu . “Kalau nggak percaya boleh dicoba!”, tantang Dedi .
Dengan wajah yang memerah dan tersenyum, cewek itu membuka pintu apotik lalu masuk kembali setelah membuang puntung rokoknya, meninggalkan Dedi seorang diri. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Dedi merasa sangat tolol setelah menyadari jika dia baru saja mengeluarkan kata-kata yang paling bodoh sepanjang pengalamannya berkenalan dengan cewek. Bahkan saat ini dia belum mengetahui nama dan alamat cewek yang baru saja bercakap-cakap dengannya selama 30 menit. Sebuah hasil yang dapat menjatuhkan pamor yang dikenal teman-temannya sebagai seorang yang ahli memperoleh data tentang cewek dalam berkenalan.
Tak lama kemudian Dedi juga kembali masuk kedalam apotik dan mendapati pegawai pria apotik itu telah duduk dimeja counter. Merasa ingin buang air kecil, Dedi menanyakan letak toilet kepada pria itu. Sesuai petunjuk pria tadi, Dedi memasuki lorong panjang dalam apotik itu dan akhirnya menemukan kamar mandi setengah terbuka yang kelihatan sangat bersih. Dengan terburu-buru Dedi masuk dan langsung membuka resleting celana jeansnya dan segera mengeluarkan penisnya dari dalam CDnya lalu, “Ah.. Lega rasanya!”
Rupanya Dedi melupakan menutup pintu kamar mandi. Dan karena lagi menikmati buang air kecil dia tak merasakan jika di belakangnya sudah berdiri pegawai cewek tadi sambil mengamati bentuk dan ukuran penis Dedi yang lagi menyemburkan cairan urine bak ujung selang. Setelah membersihkan penisnya dengan tissu yang ada disampingnya, ia terkejut setengah mati merasakan pundaknya dipegang tangan halus dan punggungnya merasakan geseran dengan dua benda tumpul yang lunak. Menoleh ke belakang ia melihat wajah pegawai cewek tadi.
Dengan napas lega Dedi berkata, ” kukira hantu, sampai hampir pingsan rasanya!”.
” aku mau buktikan ucapan Mas diluar tadi!”, ucap cewek itu sambil tangan kanannya bergerilya memegang pangkal penis Dedi .
Tanpa dikomando burung Dedi langsung mendongkak keatas memberi penghormatan atas rangsangan genggaman halus tangan cewek itu. Dii kuti helaan napas yang dalam cewek itu menggeser-geserkan daerah vitalnya yang masih berada dibalik rok dan CDnya ke pantat Dedi . Dengan serta merta Dedi memutar bagian tubuhnya hingga berhadapan dengan cewek itu . Lepaslah genggaman cewek itu pada penis Dedi , tapi pantatnya jadi gantinya, diremas dan ditariknya kearah tubuh cewek itu . Dua bibir saling bertautan, cumbuan dibalas cumbuan, keduanya saling bercumbu dengan gairah yang luar biasa. Dua tangan Dedi menemukan pantat cewek itu dan meremasnya sambil menarik ketubuhnya. Penis Dedi terhimpit dan bergesek dengan bagian depan rok cewek itu tepat pada daerah sekitar alat vitalnya, sementara buah dadanya terhimpit dada Dedi . Di bagian bawah gesek menggesek 2 alat vital yang berlainan jenis menimbulkan efek yang semakin menjadi-jadi meskipun masih terhalang oleh rok dan CD cewek itu . Di bagian tengah dimana gesekan payudara yang semakin mengeras pada dada Dedi juga terhalang oleh BH, pakaian cewek itu dan kaos Dedi . Bagian ataslah yang baru bebas dari segala penghalang, lidah Dedi masuk dalam mulutnya dan mengusap lidah cewek itu dengan liarnya dan dibalas dengan sedotan dari mulut cewek itu , hal ini terjadi silih berganti sementara kedua bibir saling melekat satu sama lainnya.
Selang beberapa waktu terjadi genjatan senjata. Kedua pihak saling melepas halangan yang ada. Pakaian terusan cewek itu sekarang sudah terlepas semua kancing depannya hingga bagian depan tubuhnya terbuka bebas. Celana jeans dan CD Dedi juga sudah sampai kebawah, juga kaosnya yang benar-benar lepas tersampir di gagang pintu kamar mandi sempit yang tertutup. cewek itu kemudian melingkarkan tangannya kebelakan untuk melepas kancing BHnya, Dedi memanfaat momen itu dengan berjongkok dan mencumbu perut cewek itu sambil melorotkan CD cewek itu hingga lepas. Bersamaan dengan lepasnya BH cewek itu , cumbuan bibir Dedi juga bertemu bibir vaginanya. Desahan dan erangannya merasuki otak Dedi , sedotan mulutnya pada vagina cewek itu dii kuti dengan permainan lidah di klitoris.
Kedua tangan bebas cewek itu segera menangkap dan menarik bagian belakang kepala Dedi ke arahnya hingga muka Dedi terhimpit diselakangannya. Sedotan mulut Dedi bertambah kuat bak pompa air yang lagi menyedot sumur. Sesekali cewek itu agak menjongkok dan dengan tarikan kuat pada kepala Dedi hingga juluran lidah Dedi dapat masuk kedalam lubang vaginanya yang paling dalam. Rangsangan hebat yang diberikan Dedi menghasilkan gelombang kejut pada cewek itu , denyut-denyut dinding vaginanya mengantarkan keluarnya cairan kental. Bergelinjang dalam keadaan berdiri membuatnya terhuyung lemas namun beruntung dinding kamar mandi itu telah dekat dengan punggungya hingga tersandarlah punggungnya di dinding. Dekapan Dedi setelah bangkit dari jongkoknya juga membantu cewek itu untuk tetap berdiri sambil bersandar pada dinding kamar mandi.
Dalam dekapan Dedi , mata cewek itu terpejam merasakan kepuasan sesaat, payudaranya menempel pada dada Dedi yang berbulu tipis, dan napasnya yang tadinya terengah-engah mulai teratur kembali. Penis Dedi menempel ketat pada daerah kemaluan cewek itu hingga merasakan kehangatan yang basah. Dedi mulai mencumbu mulut cewek itu dan sedikit demi sedikit diber jalan hingga pergumulan kedua mulut tak dapat dihindarkan kembali. Dii kuti gerakan pinggul dan pantat, mengakibatkan geseran penis Dedi pada bibir vagina cewekmulai terasa nikmatnya bagi kedua belah pihak. Lalu cewek itu membuat rang kulan tangan serta usapan di punggung dan belakang kepala Dedi . Terprovokasi oleh rangsangan yang diberikan cewek itu , Dedi mulai sedikit berjongkok hingga ujung penisnya menempel bagian depan lubang vagina lalu dengan gerakan meluruskan kembali kakinya, naik dan masuklah seluruh batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan cewek itu yang telah licin dengan tiba-tiba. Kaget oleh sentakan Dedi , keduanya melepaskan ciuman mulut, “Akh..!”, jerit cewek itu dengan mulut terbuka dan dii kuti dengan desahan, “Ah.. ah.. ah..” ketika Dedi memompa batang kemaluannya kebawah dan keatas. Dua insan berlainan jenis telah memulai hubungan sebadan sambil berdiri dalam kamar mandi apotik yang sempit.
Mulut Dedi mulai menghisap bagian kiri leher cewek itu lalu sesekali pada telinga kirinya. Dengan berputarnya waktu dan berbagai rangsangan yang saling diterima keduanya, cewek itu semakin merasa lemas pada bagian kakinya karena memaksakan diri untuk merengguk kepuasan meskipun telah berorgasme 2 kali. Akhirnya dengan tetap menyandarkan punggungya pada dinding kamar mandi ia meminta tangan Dedi untuk menahan pantatnya lalu mengaitkan kedua kakinya pada bagian belakang kaki Dedi . Sambil membopong cewek itu Dedi tetap mela kukan pemompaan batang kemaluannya pada vagina cewek itu . Ke kuatan Dedi ada batasnya, akhirnya dilepaskannya kaki kanan cewek itu agar dapat menopang tubuh cewek itu sendiri. Dengan tangan kanan tetap memegang paha kiri cewek itu , Dedi mempercepat gerakan pompanya.
“Aduh Mas aku mau keluar lagi, ssh..”, ucap cewek itu sambil menggigit bibir atasnya.
Dedi pun segera melepas beban yang sedari tadi ditahannya, penisnya berdenyut hebat dalam liang kenikmatan, menyemprotkan cairan sperma bagai semburan ular berbisa. Merasakan semburan cairan hangat dalam liangnya, cewek itu pun tak kuasa menahan orgasmenya. Keduanya saling berang kulan sampai penis Dedi keluar dari liang kenikmatan dalam keadaan kosong dan lemas. Diakhiri dengan saling ciuman bibir, keduanya membersihkan diri, mengenakan kembali pakaian yang lepas, dan keluar dari kamar mandi.
Dedi melihat waktu pada jam dinding apotik menunjukkan pu kul 3 pagi dan setelah menerima obat pesanannya yang baru tiba itu dari pegawai pria apotik itu, dia langsung keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai rumah sakit tempat kawannya dirawat. Kemudian dia memberikan obat serta kopi resepnya itu pada perawat jaga lalu duduk termenung di ruang tunggu sambil berusaha mengingat kejadian sensasional di apotik tadi. Lalu dari kejauhan lorong rumah sakit didepannya dia melihat Bondan dan Rian , kedua kawannya, keluar dari sebuah ruangan dengan wajah suka cita, diikuti 2 perawat, yang seorang berumur 40-an dan satunya 20-an. Kedua perawat yang berjalan dibelakang Bondan dan Rian terlihat sedang membetulkan seragamnya dan berusaha menutup kancing bagian atasnya. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Dedi .
Kira-kira apa yang telah dila kukan Bondan dan Rian ? Donor darah merah atau putih? Kenapa mereka kelihatan senang sekali? Itulah semua pertanyaan dalam benak Dedi .

Incoming search terms:

Tags: #cerita dewasa #cerita ngentot #cerita sex #Memek #ngentot