Tante Yanti Yang Montok

300 views
cerita dewasa

cerita dewasa

Persahabatanku dengan Feris
begitu dekatnya dan secara
kebetulan kami juga punya
pengalaman pernah
berhubungan intim dengan
Tante Yanti, Bibi Feris sendiri.
Disini kubuka ceritaku dengan
pengalaman Feris terlebih dulu.
Sewaktu keluarga Tante Yanti
pindah dari Yogya ke Jakarta,
Feris keponakannya ikut
dibawa untuk bersekolah di
Jakarta dan di situlah aku
mulanya bergaul akrab dengan
Feris. Hubungan intim antara
Feris dengan tantenya,
berawal sejak mereka masih
sama-sama di Yogya. Dari situ
berlanjut secara rahasia
sampai kemudian dengan alasan
ingin bersekolah di Jakarta,
Feris kemudian ikut dengan
keluarga Tante Yanti. Dan
cerita bagaimana hubungan itu
terjadi yaitu ketika Feris yang
meningkat remaja selalu
datang ke rumah tantenya
karena sekolahnya kebetulan
jaraknya dekat dengan rumah
tantenya itu. Dia masih tinggal
bersama orang tuanya tapi
lama-lama mulai sering
menginap di rumah Tante Yanti
di mana dia juga diberi kamar
tersendiri oleh tantenya itu.
Feris senang di situ karena
selain tantenya, Paman Budi
suami Yanti juga
menyayanginya sebagai
anaknya sendiri.
Suatu kali suami Yanti
mendapat tugas belajar selama
dua bulan oleh perusahaannya
di kota lain dan hari itu sudah
genap sebulan Tante Yanti
ditinggal oleh suaminya dengan
ditemani Feris yang kalau
malam akan datang menginap
di rumahnya. Entah kebetulan
atau apa namanya, malam itu
Tante Yanti ke luar kamarnya
untuk pergi kencing, dia masuk
kamar mandi menabrak Feris
yang baru akan ke luar dari
situ. Dia rupanya juga baru
habis kencing tapi tidak
menyalakan lampu dan sedang
akan menutup celananya
ketika itu. Tante Yanti kaget
tapi segera mengenali Feris.
IAstaga, Tante kira siapa.. kok
nggak nyalain lampu sih?I
tegur Tante Yanti sambil
langsung menghidupkan lampu
kamar mandi.Cewek Mulus Bertoket Besar
Begitu susana jadi terang
langsung terlihat Feris tersipu-
sipu malu sedang kerepotan
buru-buru akan menutup
celananya. Tante Yanti jadi geli
dan terbit isengnya ingin
menggoda Feris.
ILho apa tuh, kok buru-buru
mau disembunyiin.I katanya
sambil menggoda malah
melorotkan celana Feris.
Tentu saja Feris tambah merah
mukanya tapi Tante Yanti juga
tambah senang mencandainya.
Tidak tanggung-tanggung
malah dijulurkan tangannya ke
penis Feris.
IAyo kok malu-malu banget
sama Tante, coba sini Tante
pegang biar sekalian ilang
malunya,I langsung disambar
batang itu membuat Feris tidak
bisa mengelak lagi.
ISekarang Tante mau tanya,
memangnya inimu udah bisa
kenceng sih? Kalo udah bisa
kenceng baru boleh malu sama
Tante,I lanjutnya tapi
genggaman tangannya
dimainkan penis itu.
Feris yang baru berusia 15
tahun ketika itu hanya
mengangguk dengan wajah
masih merah malu, dia
terpaksa diam saja
dipermainkan oleh tantenya.
Dijawab begini Tante Yanti jadi
pasang muka heran tidak
percaya. IAh masak sih.. Tapi
kamu tungguin Tante kencing
sebentar, jangan kemana-mana
ya?I kata Tante Yanti melepas
tangannya dan dia pun kencing
sementara ditunggui Feris yang
patuh tidak beranjak dari situ.
Keluar dari kamar mandi
dengan menarik lengan Feris,
Tante Yanti mengajak ke
kamar tidur Feris sendiri
karena penasaran ingin
membuktikan jawaban Feris
tadi. Begitu masuk dan
mengunci pintu dia langsung
berbalik untuk membawa anak
muda itu berdiri di hadapannya
sementara Tante Yanti sendiri
duduk di tepi tempat tidur.
ICoba buka dulu celananya,
Tante pengen buktiin sendiri.I
Feris menurut saja dan
sebentar kemudian penisnya
sudah dimainkan tantenya,
dilocok-locok untuk membuat
jadi menegang. Dan ternyata
seperti yang tadi dijawab Feris,
penis anak muda ini rupanya
bisa menegang bahkan bangun
dengan cepat sekali di dalam
genggaman tangan Tante
Yanti. Begitu terpandang penis
tegang dengan ukurannya
yang lumayan besar ini, mata
Tante Yanti langsung bersinar
kagum tapi seiring dengan itu
mendadak timbul hasrat
berahinya membayangkan
asyiknya jika bisa dipuasi
batang muda ini. Maklum,
karena bersamaan saat itu
suaminya sudah cukup lama
pergi sehingga Tante Yanti
yang sedang kesepian dan
dalam iseng-iseng seperti ini
cepat sekali naik rasa
kepinginnya. Apalagi penis muda
ini sudah langsung menampilkan
bentuk keras kakunya berbeda
sekali dengan milik suaminya
yang sudah mulai ogah-ogahan
untuk dibuat kencang.
IWihh Ferr.. punyamu rupanya
betul-betul bisa bangun.. Tante
kagum deh, abisnya hebat sih.I
IHebat kenapa Tante?I tanya
Feris yang masih polos, sudah
mulai keluar suaranya.
IIya, punyamu mantep gedenya
mau ngalah-ngalahin Paman
punya.I jawab Tante Yanti
membesarkan hati Feris
meskipun sebenarnya hampir
seukuran milik suaminya.
IEmang kenapa kalo gitu?I
tanya lagi Feris masih tetap
belum mengerti.
IYang gini malah enak kalo
dipake ke orang perempuan.
Tapi, ayo tidur aja sambil
Tante temenin sebentar,
soalnya masih kepengen
pegang-pegangin punyamu.I
Tante Yanti mematikan lampu
dan mengajak Feris untuk mulai
tidur, hanya saja jelas sulit
bagi Feris karena penisnya
masih tetap dipermainkan
remasan tangan tantenya. Tapi
sementara itu Yanti lebih sulit
lagi. Memegang-megang penis
keras begini dalam suasana
gelap gulita khayalannya yang
melayang membayangkan
nikmatnya bersetubuh dengan
penis ini membuat dia semakin
gelisah. Kepingin tapi juga
ragu-ragu mengajaknya
karena masih ada rasa malu
dalam hatinya untuk merayu
keponakan yang masih polos
ini. Tetapi, makin ditekan
perasaan itu makin menuntut
juga berahinya yang sedang
kesepian untuk dapat
penyaluran. Ada beberapa lama
perasaannya bertarung antara
kebutuhan dan
ketidakpantasan tapi akhirnya
Tante Yanti menyerah pada
tuntutan nafsunya.
IIni kok nggak lemes-lemes sih
barangnya?I tanyanya mulai
memancing.
IAbis Tante mainin gitu terus
sih..I
INgg.. mau Tante bikinin supaya
lemesnya nanti kerasa enak?I
dia mulai berlanjut.
Feris menggangguk meskipun
belum paham betul.
ITapi kalo Tante bikinin, Feris
jangan sekali-sekali cerita
siapa-siapa, ya?I kata Tante
Yanti sambil membuka celana
dalamnya sendiri, IAyo, kamu
naik ke sini nanti Tante yang
ajarin.I lanjutnya mengajak
Feris segera setelah dia
menyisipkan celana dalamnya
ke bawah bantal.
Feris yang masih hijau dan
belum mengerti apa-apa tentu
saja langsung mengiyakan
pesan Tante Yanti dan cepat
mengikuti ajakan itu meskipun
hatinya berdebaran tegang.
Berpindah dia menaiki tubuh
Tante Yanti dalam posisi untuk
menindih tapi tidak menempel
sesuai instruksi Tante Yanti
yang masih mengatur cara
untuk memulai sanggama ini. Di
situ sementara Feris di
atasnya masih bertahan
merenggang bertumpu pada
kedua siku lengan dan
lututnya, kedua tangan Tante
Yanti terjulur ke bawah
mempersiapkan pertemuan dua
kemaluan. Dengan sekedar
menyingkap ke atas gaun
tidurnya membebaskan
vaginanya, sebelah tangannya
memegang penis Feris dan
kemudian menempelkan
ujungnya di mulut vagina yang
sudah dikuakkan dengan jari-
jari sebelah tangannya lagi.
Yanti sendiri sudah gemetaran
diburu keinginannya tapi belum
langsung mulai, dia masih
menggosok-gosokkan kepala
batang Feris di klitoris dan
mulut lubang untuk
merangsang cairan vaginanya
lebih banyak keluar. Sambil
begitu, senang dia
memperhatikan air muka Feris
menegang terbingung-bingung
dengan apa yang sedang
dialaminya. Sampai setelah
merasa cukup waktunya dia
pun menyesapkan kepala
batang itu dengan meminta
Feris menekan sedikit. Ini diikuti
Feris dan begitu mulai terjepit
segera kedua tangan Yanti
dicabut untuk dipindahkan
mengatur gerak Feris
memasukan batangnya. Kali ini
yang sebelah memegang
pantat atas Feris untuk
isyarat menekan sedang yang
sebelah memegang pinggul
untuk isyarat menarik.
IIkutin Tante, ya?I katanya
memberi tanda untuk mulai.
Begitu, dengan dipandu kedua
tangan Tante Yanti gerak
tarik tusuk batang Feris
dimulai pelan sementara Tante
Yanti sendiri mengimbangi
dengan memutar-mutar
vaginanya agar usaha
memasukan penis menjadi
lancar. Dia perlu membantu
dulu karena Feris masih terlalu
polos sehingga kuatir langsung
main sekali tusuk membuatnya
perih. Ternyata mulus saja
karena sebentar kemudian
seluruh panjang batang itu
sudah tenggelam habis. Yanti
baru mengendor dan menarik
tubuh Feris bisa menindih
penuh, hanya bagian kepala
masih merenggang memandangi
Tante Yanti tetap terbingung-
bingung tegang.
IUdah masuk semua punyamu
Fer, gimana rasanya diginiin,
enak nggak?I goda Tante
Yanti.
Feris hanya bisa mengangguk
dengan mulut serasa penuh
sulit untuk bicara, Tante Yanti
jadi tersenyum geli.
IAyo deh, sekarang kamu bisa
mainin pelan-pelan rasain
enaknya..I kata Tante Yanti
dengan menarik kepala Feris
mendekapnya sayang pipi
bertemu pipi.
Meskipun belum mengerti
penuh tapi Feris mulai
bergerak mengikuti nalurinya.
Penisnya dimainkan tarik tusuk
menggesek di jepitan vagina,
sementara Yanti sendiri sudah
menenggelamkan diri untuk
menikmati asyik yang didapat
dari sodokan-sodokan penis
untuk menyalurkan tuntutan
kerinduan berahinya. Matanya
dipejamkan meresap asyik
dengan ikut memutar
vaginanya menambah rasa
gesekan dengan kilikan enak di
dalam rahimnya.
Sanggama memang tidak
memerlukan pelatihan khusus
sebelumnya, karena naluri akan
membawa si pemula akan jadi
bisa dengan sendirinya. Feris
yang meskipun baru kali inipun
begitu juga. Rasa enak yang
didapat waktu dia baru mulai
pelan-pelan menggesek
penisnya meningkat penasaran
untuk menambah lebih banyak
lagi. Semakin dipercepat gerak
memompa semakin enak yang
dirasakannya. Penisnya seperti
dilocok-locok dan dipijit-pijit
oleh jepitan vagina begitu
mengasyikkan sekali, ini tidak
hanya oleh gesekan tarik
tusuk saja tapi juga dibantu
putaran kocokan vagina Yanti.
Satu-satunya kekurangan Feris
saat itu adalah dia belum
berpengalaman untuk
mengatur emosinya tapi tentu
saja ini sudah diantipasi Yanti.
Apalagi Yanti sedang dituntut
berahinya sehingga dengan
berkonsentrasi sebentar Yanti
tidak ketinggalan dari Feris. Dia
tiba bersamaan dengan Feris di
akhir permainan. IHhoohgh..I
Yanti mengerang mencapai
orgasmenya bersamaan dengan
Feris berejakulasi.
Tidak seperti biasanya dengan
suaminya di mana Tante Yanti
berorgasme dalam gaya ekstasi
yang merintih dan menggeliat-
geliat seperti terlupa segala-
galanya, kali ini kecuali
mengejang-ngejang menahan
suara, Tante Yanti seperti
menunggu momen indah yang
tidak ingin dilewatkannya yaitu
melihat saat pertama jejaka ini
berejakulasi. Di atas dilihatnya
mimik muka Feris diam tegang
dengan mulut setengah
menganga kaku mengernyit-
ngernyit alisnya dengan mata
sayu ketika untuk pertama kali
dia menyalurkan
kejantanannya, tapi di dalam
jepitan vagina dirasakannya
penis Feris mengamuk
menyentak-nyentak
menyemprotkan cairan mani
seolah dipompa keluar lewat
kejutan perutnya. Semburan
deras yang kalau batang
dicabut mungkin bisa mencapai
jarak 3 meter itu, sekarang
dinikmati Yanti sambil dia juga
mengejang berorgasme, momen
ini dirasakannya begitu indah
mengasyikkan sekali karena
terasa begitu lama dan
panjang temponya. Tenang dan
tidak histeris gayanya tapi
justru kesannya lebih
menyenangkan. Dan dalam
keadaan seperti itu muncul
sayang yang lebih besar
kepada Feris yang langsung
diusap-usap dan dibelai-belai
mesra wajah serta rambutnya
dari saat berorgasme sampai
dengan kejutan-kejutan
melemah untuk kemudian
berhenti dengan nafas
tersengal-sengal. Nah, kesan
indah inilah yang membuat
keduanya melanjutkan
permainan terlarang secara
rahasia sampai kemudian Yanti
membuat hubungan baru
denganku.
Sebetulnya cerita pengalaman
Feris kepadaku bukan
diceritakan oleh dia sendiri
kepadaku justru kudengar dari
Tante Yanti sendiri. Kenapa
bisa begitu? Ini tidak lain
karena aku berikutnya juga
mengambil bagian meniduri
Tante Yanti sehingga dia jadi
akrab kepadaku. Tentu, bukan
aku yang memulai lebih dulu
melainkan Tante Yanti yang
membujuk dalam usahanya
menutup mulutku karena aku
dilihatnya mulai mencurigai
adanya hubungan gelap antara
dia dengan Feris. Mulanya aku
sering dibawa Feris bertandang
ke rumah tantenya dan
karena sudah kenal akrab aku
juga sering datang sendiri
mencari Feris yang kutahu
pasti ada di situ. Tadinya
biasa-biasa saja tapi lama-lama
aku mulai mencurigai bahwa
Feris tentu punya hubungan
istimewa dengan tantenya ini
karena kulihat cara keduanya
begitu mesra berbeda antara
hubungan tante dengan
keponakannya. Malah sekali
pernah kupergoki Tante Yanti
keluar dari kamar bersamaan
dengan Feris dalam kedaan
kusut seperti habis bergelut,
tapi tentu saja aku pura-pura
tidak tahu karena tidak etis
menanyakan secara mendetail
kepadanya. Feris sendiri sudah
merasa bahwa aku mencurigai
adanya hubungan gelap itu
hanya jelas dia juga berusaha
menyembunyikannya kepadaku.
Akan tetapi kalau Feris tetap
menutup mulutnya kepadaku
sesuai pesan tantenya, tidak
demikian dengan Tante Yanti
sendiri. Sadar bahwa aku bisa
berbahaya kalau tidak diajak
kerja sama, dia pun menyusun
siasat untuk menjebakku.
Waktu itu Feris sudah kembali
ke Yogya setamat SMA untuk
melanjutkan kuliah di kotanya
sendiri.
Suatu ketika rumahnya sedang
kosong cuma tinggal Tante
Yanti berdua Ganis, anaknya
yang baru berusia 3 tahun, dia
meneleponku untuk meminta
tolong membetulkan kran
kamar mandinya. Tentu saja
kupenuhi karena aku baginya
sudah dianggap seperti
keluarga di rumahnya dengan
sendirinya cepat saja kupenuhi
permintaan itu. Aku datang
dengan segera tapi kran rusak
ternyata hanya alasan saja
melainkan diminta untuk
menemani sambil membantu
memijiti kakinya yang katanya
sedang kram. Di ruang tengah
Tante waktu itu duduk di sofa
panjang sedang menunggui
Ganis yang sedang bermain-
main di atas karpet di
depannya.
IAbis kalo nggak pake alesan
keran nanti nggak enak
didengar keluargamu. Sini Don,
Dony bisa bantuin mijetin kaki
Tante, nggak? Tante suka
rasa keram di kaki.I begitu
katanya menyambutku dan
langsung meminta bantuanku.
Aku mengangguk dan
mendekat berlutut di depannya
akan mulai memijit sebelah
kakinya di bagian bawah tapi
rupanya bukan di situ.
IOo bukan di situ Don..Di sini, di
selangkangan ini. Nggak apa ya
Tante begini, nggak usah
kikuk, Dony kan udah kayak
anak Tante sendiri.I katanya
sambil menyingkap roknya ke
atas menunjukkan daerah yang
harus kupijit yaitu di
selangkangan pahanya.
Tidak tanggung-tanggung, rok
itu disingkap sampai di atas
celana dalamnya sehingga mau
tak mau terpandang juga
gundukan vaginanya
menerawang dari balik kain
tipis celana dalamnya itu. Tentu
saja, biarpun sudah dipesan
lebih dulu agar aku tidak usah
kikuk-kikuk, tidak urung
mukaku langsung berubah
merah malu dengan
pemandangan yang seronok ini.
Tante seperti tidak mengerti
apa yang kurasakan, dia
menyuruh aku mendekat
masuk di tengah
selangkangannya dan
mengambil kedua tanganku,
meletakan di masing-masing
paha atasnya persis di tepi
gundukan bukit vaginanya. Dia
minta bagian yang katanya
sering pegal itu kutekan
pelan-pelan dan waktu kumulai
agak bergetaran juga
tanganku mengerjainya
sementara Tante Yanti
memejamkan matanya pura-
pura menikmati pijitanku.
Padahal sungguh, aku sama
sekali tidak tahu bahwa aku
sedang diperangkap olehnya.
IIya di situ sering pegel Don,
tapi ntar dulu.. kurang pas
yang itu, Tante naikin kaki
dulu..IBerikutnya dengan alasan
kurang puas Tante menaikan
kedua telapaknya ke atas tepi
sofa di mana dia sekarang
minta aku memijit lebih ke
dalam lagi sehingga boleh
dibilang aku hanya memijit-mijit
otot seputar kemaluannya
saja. Pikiranku mulai terganggu
karena bagaimanapun
meremas-remas tepi bukit
yang sedang terkangkang
menganga ini mau tidak mau
membuat nafasku memburu
juga. Maklum, meskipun masih
remaja tapi aku sudah kenal
tidur dengan perempuan
sehingga jelas mengenal rasa
yang bisa diberikan bukit
menggembung di depanku.
Apalagi dalam pemandangan
yang merangsang seperti ini.
Nah, di tengah-tengah
kecamuk lamunan seperti ini
Tante semakin jauh
menggodaku.
INgomong-ngomong Dony udah
pergi maen cewek, belum?I
INgg.. maen cewek maksud
Tante pacar-pacaran?I kataku
balik bertanya pura-pura tidak
mengerti.
IMaksudnya tidur sama cewek,
ngerasain ininya,I katanya
sambil menunjuk vaginanya.
Ditanya begini wajahku merah
lagi, jadi gugup aku menjawab,
INgmm.. belum pernah Tan..I
jawabku berbohong.
Mungkin aku salah menjawab
begini karena kesempatan ini
justru dipakai tante makin
menggodaku.
IAh masak sih, coba Tante
pegang dulu..I begitu selesai
bicara dia sudah menarikku
lebih dekat lagi dengan
menjulurkan kedua tangannya,
satu dipakai untuk menggantol
di leherku menahan tubuhnya
tegak dari sandaran sofa, satu
lagi dipakai untuk meraba
jendulan penisku.
ITante pengen tau kalo
bangunnya cepet berarti betul
belum pernah.I lanjutnya lagi.
Entah artinya yang sengaja
dibolak-balik atau memang ini
bagian dari kelihaiannya
membujukku, namanya aku
masih berdarah muda biarpun
sudah terbiasa menghadapi
perempuan tapi dirangsang
dalam suasana begini tentu
saja cepat batangku naik
mengeras. Kalau sudah sampai
di sini sudah lebih gampang lagi
buat dia.
IWihh, memang cepet bener
bangunnya.. Tapi coba Don,
Tante kok jadi penasaran
kayaknya ada yang aneh
punyamu..I katanya tanpa
menunggu persetujuanku dia
sudah langsung bekerja
membuka celanaku
membebaskan penisku. Aku sulit
menolak karena kupikir dia
betul-betul sekedar penasaran
ingin melihat keluarbiasaan
penisku. Memang, waktu
batangku terbuka bebas
matanya setengah heran
setengah kagum melihat
ukuran penisku.
IBuukan maen Donyy.. keras
banget punyamu..I katanya
memuji kagum tapi justru
melihat yang begini makin
memburu niatnya ingin cepat
menjeratku, ITapi masak sih
yang begini belum pernah
dipake ke cewek. Kalo gitu sini
Tante kenalin rasa sedikit,
deket lagi biar bisa Tante
tempelin di sini.I lanjutnya,
lagi-lagi tanpa menunggu
komentarku dia memegang
batangku dan menarikku lebih
merapat kepadanya. Apa yang
dimaksudkannya adalah dengan
sebelah tangan bekerja cepat
sekedar menyingkap sebelah
kaki celana dalamnya
membebaskan vaginanya, lalu
sebelah lagi membawa penisku
menempelkan kepala batangku
di mulut lubang vaginanya. Di
situ digosok-gosokannya ujung
penisku di celah liangnya
beberapa saat dulu baru
kemudian menguji perasaanku.
IGimana, enak nggak digosok-
gosokin gini?I
Tentu, jangan bilang lagi kalau
sudah begini aku yang sudah
tegang dengan sinar mata
redup sudah sulit untuk
melepaskan diri, berat rasanya
menolak kesempatan seperti
ini. Aku cuma mengiyakan
dengan mengangguk dan Tante
Yanti meningkat lebih jauh lagi.
IKalo gitu Dony yang bikin biar
bisa rasa-rasain sendiri, tapi
tunggu Tante buka aja
sekalian supaya nggak
ngalangin.I lanjutnya dengan
cepat melepas celana dalamnya
untuk kemudian kembali lagi
pada posisi mengangkangnya.
Menggosok-gosokan sendiri
ujung kepala penisku di mulut
lubang vaginanya yang
menganga tambah membuatku
semakin tegang dalam nafsu,
tapi untuk menyesapkan masuk
ke dalam aku masih tidak
berani sebelum mendapat
ijinnya. Padahal itu justru yang
diinginkan tante hanya saja
mengira aku benar-benar
masih hijau dia masih memakai
siasat halus untuk menyeretku
masuk.
IAhh.. kedaleman gosokinnya..I
katanya menjerit geli
memaksudkan aku agak terlalu
menusuk. Padahal rasanya aku
masih mengikuti sesuai
anjurannya, tapi ini memang
akal dia untuk masuk di siasat
berikut, ITapi gini, supaya
nggak keset sini Tante basahin
dulu punyamu.I katanya
mengajak aku bangun berdiri.
Kali ini apa yang
dimaksudkannya adalah dia
langsung mengambil penisku
dan mulai menjilati seputar
batangku, sambil sesekali
mengulum kepalanya. Kalau
sudah sampai di sini rasanya
aku bisa menebak ke mana
kelanjutannya. Dan memang,
ketika dirasanya batangku
sudah cukup basah licin dia pun
menarik lagi tubuhku berlutut
dan kembali memasang
vaginanya siap untuk kumasuki.
Dalam keadaan seperti itu aku
betul-betul sudah buntu
pikiranku, terlupa bahwa dia
adalah Bibi dari teman baikku.
Rangsangan nafsu sudah
menuntut kelelakianku untuk
tersalurkan lewat dia.
Sehingga sekalipun Tante Yanti
tidak lagi menyuruh dengan
kata-katanya, aku sudah tahu
apa yang akan kulakukan.
Ujung penis mulai kusesapkan
di lubang vaginanya segera
kuikuti dengan gerakan
membor untuk menusuk lebih
dalam. Tante sendiri meskipun
mimik mukanya agak tegang,
dia ikut membantu dengan
jari-jari tangannya lebih
menguakkan bibir vaginanya
menjadi semakin menganga,
untuk lebih memudahkan usaha
masuk batangku. Tapi baru
saja terjepit setengah, tiba-
tiba Ganis datang mengganggu
konsentrasi teristimewa bagi
Tante Yanti. Si kecil yang
belum mengerti apa-apa ini
naik ke sofa langsung
menunggangi perut Tante
seolah-olah ingin ikut
bergabung dengan kami.
“Nanti dulu Dek, Mama lagi mau
di cuntik Mas Dony.. Adek maen
dulu sana, ya?” agak
kerepotan Tante membujuk
Ganis untuk menyingkir dan
kembali bermain, sementara
aku sendiri tetap sibuk
membor dan menggesek keluar
masuk penisku untuk menanam
sisa batang yang masih belum
masuk.Di atas dia repot
meredam kelincahan Ganis,
sedang di bawah dia juga
repot menyambut batangku.
Sesekali merintih memintaku
jangan terlalu kuat
menyodokkan penisku.
“Aashh Maas.. pelan Mas.. cakit
Mama Adek dicuntik keras-
kerass..”
Untung berhasil Tante Yanti
membujuk Ganis tepat pada
saat seluruh batangku habis
terbenam. Lega wajahnya
ketika Ganis sudah mau turun
kembali bermain.
“Naa, sekarang Mama Adek
mau maen sama Mas Dony
dulu, ya? Ayo Mas pindah ke
bawah dulu, Mama Adek juga
pengen ikutan ngerasain
enaknya.” Tanpa melepas
kemaluan masing-masing kami
pun berpindah ke karpet,
Tante Yanti yang di bagian
bawah. Di situ begitu posisi
terasa pas kami segera
menikmati asyik gelut kedua
kemaluan denganku memompa
dan Tante Yanti mengocok
vaginanya. Nikmat sanggama
mulai meresap dan meskipun di
tengah-tengah asyik itu Ganis
juga sering datang
mengganggu, tapi kami sudah
tidak peduli karena masing-
masing sedang berpacu menuju
puncak kepuasan. Dan ini
ternyata bisa tercapai secara
bersamaan. Agak terganggu
dengan adanya Ganis lagipula
suasana kurang begitu bebas,
tapi toh cukup memuaskan
akhir permainan itu bagi kami
berdua. Kelanjutan hubungan
kami memang sulit mencari
kesempatan yang lowong
seperti itu lagi. Setelah yang
pertama ini masih sempat dua
kali kami melakukan hubungan
badan tapi kemudian terputus.
Ada satu keasyikan tersendiri
yang kurasakan jika sedang
bercinta dengan Tante Yanti
yang bertubuh montok ini.
Enak rasanya bergelut dengan
daging tebalnya, seperti
menari-nari di atas kasur
empuk berbantalkan susunya
yang juga montok dan besar
itu. Rasanya dalam sejarah
percintaanku dengan para
wanita yang kesemuanya
cantik-cantik lagi berlekak-
lekuk padat menggiurkan,
maka cuma dengan dia satu-
satunya yang berbeda. Tapi,
inilah yang kusebut asyik tadi.
Aku sama sekali tidak merasa
menyesal dan justru selalu
merindukan untuk mengulang
kenangan bersama dia, hanya
saja kesempatan sudah sulit
sekali untuk didapat.
Kesempatan kali keempat
kudapat tiga tahun setelah itu
yaitu ketika aku diminta
mengantar Tante Yanti untuk
menghadiri upacara perkawinan
seorang keluarga mereka di
Semarang. Waktu itu
rencananya aku hanya
mengantar saja dan setelah
acara selesai akan pulang
langsung ke Bandung ke
tempat kuliahku, tapi rupanya
Tante Yanti berubah pikiran
ingin pulang menumpang lagi
denganku. Mau tak mau aku
pun berputar melewati Jakarta
untuk mengantarkan Tante
Yanti ke rumahnya dulu
sebelum ke Bandung. Tante
memang rupanya tidak ingin
berlama-lama dalam
kunjungannya, itu sebabnya
Ganis tidak diajak serta dan
ditinggal bersama pembantu
serta suaminya di rumah.
Begitu, dalam perjalanan yang
cuma kami berdua di mobil kami
pun ngobrol dengan akrab,
dengan Tante Yanti yang lebih
banyak bertanya-tanya
tentang keadaanku sementara
aku sendiri sibuk mengemudi.
Sampai kemudian menyinggung
tentang kegiatan seksku,
Tante Yanti memang bisa
menduga bahwa aku tentu
sudah banyak pengalaman
galang-gulung dengan
perempuan.
“Ngomong-ngomong soal kita
dulu kalo sekarang Dony udah
kenal banyak cewek cakep
pasti kamu nyesel kenapa bikin
gitu sama Tante waktu hari
itu, ya nggak Don?”
“Nyesel sih enggak Tan,
gimanapun kan Tante yang
pertama kali ngenalin rasa
sama Dony. Apalagi Dony juga
punya kenangan manis dari
Tante.” jawabku menyinggung
hubungan intimku waktu itu
dengannya.
“Tapi itu kan duluu.. Sekarang
dibanding-bandingin sama
kenalan-kenalanmu yang lebih
muda pasti kamu mikir-mikir
lagi, kok mau-maunya aku
sama Tante model gitu. Itupun
waktu dulu, sekarang apalagi..
tambah nggak nafsu liatnya,
ya nggak?”bokep jepang cantik janda hot
Aku langsung menoleh dengan
tidak enak hati.
“Jangan bilang gitu Tan, Dony
nggak pernah nyesel soal yang
dulu. Malah kalo masih boleh
dikasih sih sekarang pun Dony
juga masih mau kok.”
“Jangan menghibur, ngeliat
apanya sama Tante kok berani
bilang gitu?”
“Lho kenyataan dong.. Tante
emang sekarang gemukan tapi
manisnya nggak kurang. Malah
tambah ngerangsang deh.”
jawabku memuji apa adanya.
Karena memang, sekalipun dia
sekarang terlihat lebih gemuk
dibanding dulu tapi wajahnya
masih tetap terlihat manis.
“Ngerangsang apanya Don?”
“Ya ngerangsang pengen
dikasih kayak dulu lagi. Soalnya
tambah montok kan tambah
enak rasanya.” jawabku
dengan membuktikan langsung
meraba-raba buah dadanya
yang besar itu, Tante Yanti
langsung menggelinjang
kegelian.
“Aaa.. kamu emang pinter
ngerayu, bikin orang jadi ngira
beneran aja.” katanya
mencandaiku.
“Lho Dony serius kok, kalo
masih kepengen ngulang sama
Tante. Makanya tadi Dony
nanya, kalo emang masih boleh
dikasih sekarang juga Dony
belokin nyari hotel, nih?”
Lagi-lagi dia tertawa geli
mendengar candaku.
“Yang bilang nggak boleh siapa.
Tapi dikasiHPun kamu pasti
nggak selera lagi, kan
percuma.”
“Ya udah, kalo nggak percaya..
Tapi ngomong-ngomong
sebentar lagi udah gelap, Dony
lupa kalo lampu mobil kemaren
mati sebelah belum sempat
diganti. Gimana kalo kita nyari
hotel aja Tan, besok baru
terusin lagi.” kataku
mengajukan usul karena
kebetulan memang lampu
mobilku padam sebelah.
Sebetulnya ada cadangan tapi
ini kupakai alasan untuk
mengajaknya menginap.
“Duh kamu kok sembrono sih
Don.. Ayo cari penginepan aja
kalo gitu, dipaksa nerusin nanti
malah bahaya di jalan.”
Kupercepat laju mobilku
sebelum gelap dan di kota
terdekat aku pun mencari
sebuah hotel. Begitu dapat aku
langsung turun memesan
sebuah kamar sementara
Tante menunggu di mobil. Dan
setelah kembali ke mobil untuk
mengajak Tante turun sempat
kubuktikan dulu padanya
tentang lampu mobil sebelahku
yang memang padam itu.
Berdua masuk ke kamar,
setelah mandi dan makan
malam kamipun bersantai
dengan ngobrol sampai
kemudian Tante mengajakku
untuk pergi tidur. Kamar yang
kupesan memang hanya satu
tapi dilengkapi dua tempat
tidur sebagaimana biasanya
bentuk kamar hotel. Melihat
dari keadaan ini Tante Yanti
tidak mengira bahwa aku
betul-betul serius dengan
keinginanku untuk mengulang
lagi kenangan lama. Dia baru
saja mengganti baju tidur dan
baru akan mulai mengancingnya
ketika aku keluar dari kencing
di kamar mandi langsung
mendekat memeluknya dari
belakang. Aku sendiri hanya
mengenakan handuk berlilit
pinggang setelah membuka
bajuku di kamar mandi.
“Gimana Tan, masih boleh
dikasih Dony nggak..” bisikku
meminta di telinganya tapi
sambil mengecup leher bawah
telinganya diikuti kedua
tanganku mulai meremasi
masing-masing
susunya.Tersenyum geli dia
karena sudah sampai di situ
pun dia masih mengira aku
cuma bercanda menggoda.
“Apanya yang enak sih sama
orang yang udah gembrot gini,
Don.”
“Buat Dony sih tetap enak,
malah Dony kangen deh Tan..”
Sambil bicara begitu kubuka
lagi satu kancing daster
tidurnya yang baru terpasang,
sehingga bagian depan
tubuhnya terbuka berikut
kedua susunya yang bebas
karena Tante sengaja tidur
tanpa memakai kutang, untuk
kemudian tanganku berlanjut
meremasi susu telanjangnya
itu. Tante membiarkan saja
tapi dia bertanya mengujiku
dengan nada setengah ragu
kepadaku.
“Masak sih kangen sama
Tante? Kan kamu biasanya
sama cewek-cewek cakep,
yang masih muda lagi langsing-
langsing badannya..?”
“Justru melulu sama yang
begitu Dony malah sekali-sekali
kepengen yang laen biar ada
variasinya. Jadinya keinget
sama Tante bikin Dony kangen
sama montoknya..”
“Kamu bisa aja..”
“Lho bener Tan. Montoknya
Tante ini yang bikin enak,
mantep rasanya. Apalagi yang
ini.. hmm.. sekarang tambah
montok berarti tambah enak
lagi rasanya..” kali ini sebelah
tanganku sudah kujulurkan ke
bawah meremas-remas gemas
gundukan vaginanya.
Tante Yanti merengek senang,
sekarang baru dia percaya
dengan keseriusanku. Apalagi
ketika dia juga membalas
menjulurkan tangannya ke
belakang, di situ dia
mendapatkan bahwa di balik
handuk itu aku sudah tidak
mengenakan celana dalam lagi.
Tanpa diminta lagi dia sendiri
membuka lagi daster tidur
sekaligus juga celana dalamnya
sendiri untuk bersama-sama
telanjang bulat naik ke tempat
tidur.
Wanita berwajah manis
diusianya mencapai 33 tahun ini
memang sudah mekar
tubuhnya, tapi bukan gembrot
kedodoran dengan lipatan-
lipatan kulit berminyak,
melainkan masih cukup kencang
lagi cukup mulus sehingga
montoknya berkesan sexy
yang punya daya tarik
tersendiri. Dan aku juga jujur
mengatakan bahwa aku
merindukan kemontokannya,
karena baru saja melihat dia
terbuka sudah langsung
terangsang gairah kelelakianku.
Sebab dia belum lagi merebah
penuh, masih duduk di tengah
pembaringan untuk mengurai
gelung rambutnya, sudah
kuburu tidak sabaran lagi.
Kusosor sebelah susunya,
sebelah lagi kuremas-remas
gemas, dengan rakus mulutku
mengenyot-ngenyot bagian
puncaknya, mengisap,
mengulum dan menggigit-gigit
putingnya.
“Ehngg.. gelli Doon.. Iya, iya,
nanti Tante kasih..” merengek
kegelian dia karena serangan
mendadakku.
“Abis gemes sih Tan..” sahutku
cepat dan kembali lagi
menyerbu bagian dadanya.
Melihat begini Tante Yanti
mengurungkan merebahkan
badannya, untuk sementara
bertahan dalam posisi duduk
itu seperti tidak tega menunda
ketidaksabaranku. Air mukanya
berseri-seri senang, sebelah
tangannya membelai-belai
sayang kepalaku dan sebelah
lagi lurus ke belakang
menopang duduknya,
ditungguinya aku melampiaskan
rinduku masih pada kedua
susunya yang montok dan
besar itu.
Seperti anak kecil yang asyik
sendiri bermain dengan
balonnya, begitu juga aku
sibuk mengerjai bergantian
kedua daging bulat gemuk itu
untuk memuaskan lewat rasa
mulut dan remasan gemasku.
Sampai berkecapan suara
mulut rakusku dan sampai
meleyot-leyot terpencet,
terangkat-angkat dan jatuh
terayun-ayun, membuat Tante
Yanti kadang meringis merintih
atau merengek mengerang
saking kelewat gemas bernafsu
aku dengan keasykanku, tapi
begitupun dia tidak mencegah
kesibukanku itu. Baru setelah
dirasanya aku mereda, diapun
bersiap-siap untuk memberikan
tuntutan kerinduanku yang
berikutnya.
Ini karena dilihatnya aku sudah
cukup puas bermain di atas
dan sudah ingin berlanjut ke
bawah, yaitu sementara
mulutku masih tetap sibuk tapi
tangan yang sebelah mulai
kujulurkan meraba
selangkangannya, segera Tante
Yanti pun merubah posisi untuk
memberi keleluasaan bagiku.
Tubuhnya direbahkan ke
belakang sambil meluruskan
kedua kakinya yang duduk
terlipat menjepit
selangkangannya, langsung
dibukanya sekali agar aku bisa
mencapai vaginanya. Mulutku
masih terus mengejar
menempel di sebelah susunya
tapi tanganku sekarang sudah
bisa memegang penuh bukit
vaginanya. Bukit daging tebal
setangkup tanganku yang
ditumbuhi bulu-bulu keriting
halus ini langsung kuremas-
remas gemas, darah
kelelakianku pun tambah
mengalir deras.
Keasyikan yang baru menarik
perhatian baru juga, berpindah
dulu aku ke tengah
selangkangannya yang kudesak
agar lebih mengangkang
sebelum kutarik kepalaku dari
susunya. Tante mengira aku
sudah akan mulai memasukinya,
dia sempat menyambar
batangku yang sudah tegang
dan melocok-locok dengan
tangannya sebentar. Seperti
ingin lebih mengencangkan lagi
tapi ada terasa bahwa dia
juga merindukan batangku,
bisa terbaca dari remasan
gemasnya yang menarik-narik
penisku. Begitu posisiku terasa
pas, aku pun memindahkan
mulutku turun menggeser ke
bawah dengan cara menciumi
lewat perutnya sampai
kemudian tiba di atas
vaginanya yang terkangkang.
Di sini konsentrasiku terpusat
dengan mengusap-usap dan
memperhatikan dulu bentuk
vaginanya. Ini untuk pertama
kali aku mendapat kesempatan
melihat jelas kemaluannya yang
sudah pernah tiga kali
kumasuki, tapi karena
waktunya sempit tidak sempat
kulihat dengan nyata.
Betul-betul suatu
pemandangan yang
merangsang sekali. Bukit
segitiga yang menjendul
dengan dagingnya yang tebal
itu ditumbuhi bulu-bulu yang
tidak begitu lebat, tidak cukup
menutupi bagian celah lubang
yang diapit pipi kanan kirinya.
Tepi bukit itu persis seperti
pipi bayi yang montok
menggembung, saking tebalnya
sehingga menjepit bibir vagina
hanya terkuak sedikit
meskipun pahanya sudah
kukangkangkan lebar-lebar.
Penasaran kukuakkan bibir
vaginanya dengan jari-jariku
untuk melihat lebih ke dalam,
tapi belum lagi jelas, Tante
Yanti sudah menegurku dengan
muka malu-malu merengek geli.
“Ahahngg.. Dony mau ngeliat
apa di dalem situ?” Aku tidak
menyahut tapi sebelum dia
berubah pikiran untuk
mencegahku, langsung saja
kusosorkan mulutku ke tengah
lubang yang baru kukuakkan
itu. “Ssshh Donyy..!” Betul juga.
Tante menjerit malu,
tangannya refleks ingin
menolak kepalaku tapi sudah
terlambat. Sebab begitu
menempel sudah cepat
kusambung dengan menjilat
dan menyedot-nyedot tengah
lubangnya. Adu ngotot
berlangsung hanya sesaat
karena Tante kemudian
menyerah, menganga dengan
wajah tegang dia ketika geli-
geli enak permainan mulutku
mulai menyengat dia.
Untuk berikutnya aku sendiri
mulai meresap enaknya
mengisap vagina montok yang
baru pertama kudapat darinya.
Lagi-lagi ada keasyikkan
tersendiri, karena tidak seperti
dengan milik wanita-wanita lain
yang pernah kulakukan seperti
ini, umumnya celah lubang
mereka terasa kecil karena
tepi kanan kirinya tidak
setebal ini. Milik Tante Yanti
justru penampilannya kelihatan
sempit tapi kalau dikuakan
malah jadi merekah lebar dan
dalam. Disosor mulutku yang
mengisap rakus, seperti hampir
tenggelam wajahku di situ
dengan pipiku bertemu pipi
vaginanya.
Di bagian inipun untuk
beberapa lama kupuaskan
diriku dengan menyedot
menjilat-jilat tengah lubangnya,
sesekali menyodok-nyodokkan
ujung lidah kaku lebih ke
dalam, membuatnya mengejang
sampai membusung dadanya.
Atau juga menggigit-gigit
klitoris, menarik-nariknya serta
menjilati cepat membuatnya
menggelinjang kegelian. Serupa
dengan puting susunya, bagian
inipun sudah mengeras tanda
dia sudah terangsang naik
berahinya, tapi Tante Yanti
juga tetap membiarkan aku
bermain sepuas-puasnya untuk
melampiaskan rinduku. Ketika
kurasa sudah cukup lama aku
mengecap asyik lewat mulutku
dan sudah cukup matang dia
kubawa terangsang, barulah
aku mulai memasukkan penisku
ke dalam vaginanya. Di sini
baru giliran Tante untuk ikut
melampiaskan rindunya
kepadaku terasa dari
sambutannya yang hangat.
Seperti pengalaman yang
kuingat, Tante Yanti bukan
type histeris dengan gaya
merintih-rintih dan menggeliat-
geliat erotis, tapi dalam
keadaan saat ini tidak urung
meluap juga gejolak rindunya
lewat caranya tersendiri
kepadaku. Yaitu seiring
putaran vagina laparnya
menyambut masuknya penisku,
tubuhku pun ditarik
menindihnya langsung
didekapnya erat mengajakku
berciuman. Yang ini juga sama
hangatnya karena begitu
menempel langsung dilumat
sepenuh nafsunya. Berikutnya
kami yang sama saling
merindukan seolah tidak ingin
melepaskan dekapan menyatu
ini. Seluruh permukaan tubuh
depan melekat erat dengan
bagian atas kedua bibir saling
melumat ketat sedang bagian
bawah kedua kemaluan pun
bergelut hangat. Aku yang
memainkan penisku memompa
keluar masuk diimbangi
vaginanya yang diputar
mengocok-ngocok. Ini baru
namanya bersetubuh atau
menyatukan tubuh kami,
karena hampir sepanjang
permainan kami melekat
seperti itu. Hanya sekali kami
menunda sebentar untuk
menarik nafas dan kesempatan
ini kupakai dengan mengangkat
tubuhku dan melihat bagaimana
bentuk wanita montok dalam
keadaan sedang kusetubuhi ini.
Ternyata suatu pemandangan
yang mengasyikkan sekaligus
makin melonjakkan gairah
kejantananku. Di bawah kulihat
vaginanya diputar bernafsu,
seolah kesenangan mendapat
tandingan yang cocok
dengannya.
Memperhatikan vagina di
bawah itu bagaikan mulut bayi
berpipi montok yang kehausan
menyedot-nyedot botol
susunya sudah menambah
rangsangan tersendiri, apalagi
melihat keseluruhan goyangan
tubuh Tante Yanti. Seluruh
daging tubuhnya ikut bergerak
teristimewa kedua susunya
yang berputaran berayun-
ayun tambah menaikkan lagi
rangsang kejantananku, sampai
aku tidak tahan dan kembali
turun menghimpit dia karena
sudah terasa akan tiba di saat
ejakulasiku. Pada saat yang
sama Tante Yanti juga sudah
merasa akan tiba di
orgasmenya, dia yang
mengajak lebih dulu dengan
menyambung lumatan bibir tadi
untuk menyalurkannya dalam
permainan ketat seperti ini.
“Hghh ayyo Doon.. Nnghoog..
hrrhg..” dengan satu erang
tenggorokkan dia membuka
orgasmenya disusul olehku
hanya selang beberapa detik
kemudian.Dua Cewek Binal Suka Berbagi Kenikmatan
Kami sama mengejang dan
sempat menunda sebentar
ketika masuk di puncak
permainan, tapi segera
berlanjut lagi melumat dengan
lebih ketat seolah saling
menggigit bibir selama masa
orgasme itu. Baru setelah
mereda dan berhenti, yang
tinggal hanya nafas turun naik
kelelahan dan tubuh terasa
lemas. Cukup luar biasa, karena
meskipun tidak berganti posisi
atau gaya tapi permainan
terasa nikmat dengan akhir
yang memuaskan. Malah
seluruh tubuh sudah terasa
banjir keringat saking serunya
berkonsentrasi dalam
melampiaskan kerinduan lama
kami. Untuk itu aku begitu
melepaskan diri hanya duduk di
sebelahnya agar keringat di
punggungku tidak membasahi
sprei tempat tidur.
“Gimana Don rasanya
barusan..?” Tante Yanti
mengujiku sambil tangannya
mengusap menyeka-nyeka
keringat di punggungku. Aku
berputar menghadap dia.
“Makanya Dony tadi ngotot
minta, soalnya udah yakin
duluan memek montok Tante
ini bakal ngasih enak..” jawabku
dengan meremas mencubit-
cubit vaginanya.
“Udah enak, puas lagi.. Tapi
Tante sendiri, gimana rasanya
sama Dony?” balik aku
bertanya padanya.
Mendapat pujianku air
mukanya bersinar senang,
ganti dia memujiku.
“Sama kamu sih nggak usah
ditanya lagi, Don. Dulu aja
kalau nggak sayangin kamu
masih muda sekali, udah mau
terus-terusan Tante ngajakin
kamu.”
“Oya? Kok tadi diajak masih
kayak ogah-ogahan?”
“Bukan ogah-ogahan, tapi
takut ketagihan sama Dony..”
jawabnya bercanda sambil
tertawa. Aku jadi tertawa geli.
Itulah hubungan ke empat
kalinya dengan Tante Yanti.

Incoming search terms:

Tags: #cerita bokep #cerita dewasa #cerita hot #cerita hot terbaru #cerita mesum #cerita ngentot #cerita pemerkosaan #cerita perselingkuhan #cerita porno #cerita seks